Resensi
Novel Salah Asuhan
1.
Identitas Buku
Judul :
Salah Asuhan
Penulis :
Abdoel Moeis
Penerbit :
Balai Pustaka
Kota Terbit :Jakarta
Tahun Terbit : 1928
2.
Kepengarangan
Abdoel
Moeis adalah seorang pengarang zaman Balai Pustaka yang berasal dari daerah Minangkabau.
Ayahnya orang Minang dan Ibunya orang Sunda. Ia adalah seorang pejuang
kebangsaan Indonesia yang sezaman dengan H.O.S Cokroaminoto dan Ki Hajar
Dewantara.
Sebagai seorang perintis kemerdekaan, ia mulai menerjuni lapangan
politik sejak tahun 1920 sebagai anggota Indie Werbar, kemudian menjadi
pemimpin Serikat Islam dan menjadi anggota Volksraad. Setelah menyelesaikan
pelajarannya di sekolah rendah Belanda di Bukittinggi, ia melanjutkan pelajaran
di Stovia, tetapi tidak sampai selesai. Kemudian, ia menjadi wartawan di
Bandung. Dengan mengetengahkan tokoh Hanafi dalam roman Salah Asuhan, Abdoel
Moeis mengkritik sikap dan tingkah laku kaum borjuis yang kebarat-baratan dan
lupa di daratan. Dalam roman tersebut soal adat masih disinggung-singgungnya, bahkan
dikritiknya tajam sekali. Beberapa karyanya berupa roman adalah Surapati,
Robert Anak Surapati, dan Pertemuan Jodoh.
3. Sinopsis
Sinopsis Novel
Salah Asuhan
Sebuah tempat bermain tennis, yang
dilindungi pohon-pohon ketapang di sekitarnya masih terasa sunyi. Karena, baru
pukul tengah lima petang hari. Cahaya mentari juga tertutupi oleh dedaunan di
tempat bermain itu.
Di
daerah Solok, tinggallah seorang anak pribumi yang bernama Hanafi. Ibu Hanafi
sudah menjadi janda sejak suaminya meninggal disaat Hanafi masih kecil. Ibunya
sangat menyayanginya.
Meskipun berjuang mencari rezki seorang
diri, Ibu Hanafi tetap berusaha keras untuk mewujudkan masa depan anaknya.
Ibunya mengirimnya ke Betawi untuk sekolah di HBS. Di Betawi, Hanafi dititipkan
dengan keluarga yang berdarah Belanda. Karena itu, pergaulan Hanafi sudah
seperti orang-orang Belanda. Hanafi juga bekerja di Kantor BB sebagai asisten
residen di Solok. Meskipun ia asli Indonesia, tetapi gaya hidupnya sudah
kebarat-baratan melebihi orang Belanda asli.
Selama sekolah di HBS, Hanafi dekat
dengan gadis Eropa yang bernama Corrie. Bukan hanya itu, tetapi dalam
kesehariannya mereka selalu bersama. Hubungan mereka sudah seperti kakak dengan
adiknya. Bahkan, mereka sering jalan-jalan berdua, bermain tenis meja bersama,
dan masih banyak lagi hal-hal yang dilakukan mereka bersama.
Karena kedekatan mereka, Hanafi sangat
sayang kepada Corrie. Sehingga Hanafi menyimpan rasa suka kepada gadis berdarah
Belanda itu. Semakin lama, rasa sayang Hanafi terhadap Corrie semakin memuncak.
Bukan hanya rasa sayang kakak kepada adiknya, melainkan rasa sayang sebagai
kekasih. Setiap hari, Hanafi selalu menyisihkan waktunya untuk bertemu dengan
Corrie walau pun dalam waktu sebentar. Sikap Corrie pada Hanafi masih terlihat
biasa-biasa saja. Suatu ketika, Hanafi memberanikan diri untuk mengungkapkan
perasaannya kepada Corrie. Akan tetapi, Hanafi tidak langsung menerima jawaban
dari Corrie. Saat itu juga Corrie langsung pamit pulang pada Hanafi dengan
melontarkan berbagai alasan.
Keesokan harinya, Corrie pergi ke
Betawi. Selang beberapa hari, sepucuk surat dari Corrie sampai kepada Hanafi.
Isi dari surat itu mengenai penolakan secara halus kepada Hanafi terhadap
pernyataan yang ia lontarkan ke Corrie tempo hari. Corrie merasa sangat tidak
mungkin menerima Hanafi, karena perbedaan bangsa mereka yang berbeda. Corrie
yang berbangsa Eropa, sedangkan Hanafi dari bangsa Melayu asli. Bukan karena
hal itu saja, namun Corrie juga ditentang oleh ayahnya untuk menikah dengan
pria yang berbangsa Melayu. Beberapa hari kemudian, setelah membaca surat
penolakan dari Corrie, kondisi Hanafi menyedihkan. Ia jatuh sakit.
Selama Hanafi sakit, Ibunya selalu
memberikan nasihat padanya. Ibunya juga tidak pernah merasa lelah dalam merawat
Hanafi. Di tengah perbincangan Hanafi dengan Ibunya, ada sedikit hal yang
membuat Hanafi terkejut. Ibunya meminta Hanafi untuk menikah dengan Rapiah,
yaitu anak mamaknya. Karena pada saat Hanafi bersekolah di HBS, mamaknyalah
yang mencukupi kebutuhannya. Mendengar perkataan Ibunya, Hanafi sangat marah.
Karena Hanafi sama sekali tidak mengetahui siapa Rapiah yang dimaksut Ibunya.
Hanafi hanya suka pada Corrie, walau pun Corrie sudah menolak cinta Hanafi.
Ketika itu juga Ibu Hanafi menjelaskan padanya kalau Rapiah adalah anak mamak,
yaitu Sultan Batuah. Ibunya ingin menjodohkan Hanafi karena merasa berhutang
budi dengan Sultan Batuah ketika Hanafi masih sekolah di HBS, meskipun hal itu
dilakukan Ibunya dengan sangat terpaksa.
Karena permintaan Ibunya, menikahlah
Hanafi dengan Rapiah. Namun, pernikahan mereka tidak pernah tentram. Rasa cinta
tidak pernah ada di antara keduanya. Perkataan kasar selalu dilontarkan Hanafi
pada istrinya, Rapiah. Bahkan ia sering memaki-maki Rapiah hanya karena hal
sepele. Akan tetapi, Rapiah hanya terdiam dan tidak pernah melawan apalagi
membalas caci maki dari suaminya itu.
Sikap balasan baik Rapiah terhadap
Hanafi membuat Ibu Hanafi kagum terhadapnya. Namun pada suatu hari Hanafi
sangat marah pada Ibunya. Tanpa sadar, Ibu Hanafi menyumpah anaknya sendiri.
Tiba-tiba ada anjing gila yang menggigit pergelangan Hanafi sampai dia harus
berobat ke Betawi. Sampainya di Betawai, tanpa sengaja Hanafi bertabrakan
dengan gadis Eropa. Tidak pernah terfikir olehnya, gadis itu ternyata Corrie.
Gadis yang ada dimasa lalunya, hingga sampai saat ini belum bisa ia lupakan.
Dengan rasa bahagia, mereka berdua berjalan-jalan keliling Betawi. Selama
seminggu Hanafi pergi meninggalkan kampung halamannya. Setelah itu, Hanafi
mencoba mencari pekerjaan di Kantor BB sebagai commies. Meskipun gajinya pada
saat itu masih terbilang rendah, ia tetap senang menjalani pekerjaannya.
Karena dengan bekerja di Betawi, ia bisa
bertemu dengan Corrie setiap harinya. Hanafi terus berusaha untuk memiliki
Corrie. Hingga pada hari itu, ia rela berubah kewarganegaraan Eropa. Setelah
prubahan kewarganegaraan yang dilakukan Hanafi, Corrie tidak menolak
lamarannya. Dikarenakan Corrie juga merasa iba terhadap Hanafi. Meskipun ia
harus menerima resikonya dijauhi oleh teman-temannya yang berbangsa Eropa. Pesta
pertunangan Hanafi dengan Corrie dilakukan di salah satu rumah teman
Belandanya. Namun, sangat disayangkan karena teman mereka tidak begitu suka
dengan pertunangan antara Hanafi dengan Corrie. Karena temannya itu tidak suka
bergaul dengan orang Belanda yang berkulit sawo matang.
Berita pernikahan Hanafi dengan Corrie
sampai pada Rapiah juga Ibu Hanafi. Namun, Rapiah tetap sabar menunggu
kedatangan Hnaafi. Saat itu, Hanafi dan Corrie resmi menjalin ikatan suami
istri. Pada hari itu, tinggallah mereka dalam satu rumah. Seiring berjalannya
waktu, pernikahan Hanafi dan Corrie mulai tidak harmonis. Rumah tangga mereka
sudah tidak tentram lagi. Sampai Hanafi tega menuduh Corrie berzinah dengan
pemuda lain. Karena hidup Hanafi yang tidak jelas, bangsa Eropa maupun bangsa
Melayu tidak mau mengakui Hanafi sebagai warga negaranya. Karena kesombongan
dan keangkuhan Hanafi membuat orang-orang menjadi membencinya.
Akhirnya, Corrie pergi ke Semarang untuk
menghindari suaminya, Hanafi. Namun pada suatu hari, Hanafi menerima surat
bahwa ada yang memberitahunya kalau keberadaan Corrie di Semarang. Ketika
mendapat berita itu, Hanafi memberanikan diri untuk menyusul Corrie pergi ke
Semarrang. Hanafi mencari Corrie di rumah seorang yang merawat anak-anak yatim.
Sesampainya di rumah itu, malah berita buruk yang diterima Hanafi. Corrie
mengidap penyakit yang membahayakan, yaitu kolera. Setelah dirawat di rumah
sakit, ternyata nyawa Corrie tidak bisa terselamatkan lagi. Setelah Corrie
meninggal dunia, Hanafi segera pulang ke Solok untuk menemui Ibu kandungnya.
Setelah beberapa hari sampai di kampung halamannya, Hanafi kembali jatuh sakit
karena sudah meminum 6 butir sublimat. Obat ini menyebabkan Hanafi terus muntah
darah. Karena penyakit yang dideritanya, Hanafi meninggal dunia karena penyakit
yang dideritanya. Namun, ketika jasad Hanafi mau dikuburkan sempat terjadi
perselisihan karena perbedaan kewarganegaraan. Karena Hanafi sudah pindah
menjadi orang Belanda maka harus dikuburkan di pemakaman bangsa Eropa. Setelah
rapat nyinyik mamak, perselisihan mengenai pemakaman jasad Hanafi
terselesaikan. Ketika itu juga, Hanafi dikuburkan di kampung halamannya pada
saat senja hari.
A. Tema
Kisah cinta antara dua budaya bangsa yang berbeda.
B.
Tokoh
1.
Hanafi
Watak :
Pemarah. Watak pemarah terdapat pada kutipan,
“Kemarahan
Hanafi kepada anaknya, yang katany
sudah
dimasuki setan dan kepada si Buyung yang
masih belum
datang, serta malunya kepada kawan-kawannya
melihat
istrinya datang, yang tidak ubah rupanya
dengan koki,
semuanya sudah tertumpah ke atas kepala
Rapiah”.
2.
Corrie
Watak :Lemah lembut. Watak lemah lembut
terdapat pada kutipan,
“Corrie
meraba tangannya yang sedang menggenggam surat kabar itu dan dengan senyum yang
amat manis, yang menimbulkan cawak pada kaki kirinya, berkatalah ia, “Hai,
Hanafi! Apakah engkau hendak menunjukkan, bahwa surat kabar itu lebih mengikat
hatimu dari pada keadaanku di sini?”
3.
Rapiah
Watak :
Penyabar. Watak penyabar terdapat pada kutipan, “Rapiah
tunduk, tidak menyahut,
hanya air matanya saja yang
berhembur”.
4.
Ayah Corrie
Watak :Tegas. Watak tegas terdapat pada
kutipan,“Kawin campuran
itu sesungguhnya banyak benar rintangannya, yang ditimbulkan oleh manusia juga, Corrie!
Karena masing masing manusia
dihinggapi oleh suatu penyakit ‘kesombongan bangsa’.
5.
Ibu Hanafi
Watak :Penyabar
dan Lemah lembut. Watak penyabar dan lemah
lembut terdapat pada kutipan, “Maka berkatalah ibunya dengan lemah lembut, “Marilah kita
lalu
dari sini, Hanafi, karena hari sudah larut malam”.
C.
Alur
Alur Maju Mundur.
Karena, Novel ini menceritakan perjalanan hidup dan percintaan Hanafi
selama hidupnya. Sejak awal ia mengenal Corrie gadis cantik berbangsa Eropa,
sampai cintanya di tolak karena perbedaan kewarganegaraan. Namun, setelah
Hanafi menikah dengan Rapiah, dia di pertemukan kembali dengan Corrie. Gadis
cantik yang menolak cintanya dimasa lalu. Namun, pertemuan itu membuat Corrie
iba terhadap perjuangan Hanafi untuk mendapatkan cintanya. Hingga pada akhirnya
mereka menikah.
D.
Sudut Pandang
Orang Pertama Pelaku Utama
E.
Amanat
1.
Mulutmu adalah
harimaumu. Janganlah melontarkan perkataan kasar pada kedua orang tuamu. Karena,
Allah bisa murka ketika mendengar perkataan yang menyakiti hati kedua orang
tuamu.
2.
Menikahlah kamu dengan
pasangan yang kamu cintai. Karena pernikahan yang tidak didasari rasa cinta,
pada akhirnya akan berdampak buruk bagi yang menjalaninya.
3.
Sabar dalam menghadapi
segala cobaan dalam hidupmu. Maka kesabaran itu akan berbuah manis. Dengan
keikhlasan kamu menerima cobaan itu, semakin besar pula pahala yang kamu
dapatkan di akhirat.
4.
Jadilah diri sendiri
dalam kondisi dan situasi apapun. Jangan pernah menentang apa yang sudah
ditakdirkan Tuhan untuk menjadi milikmu. Karena penyesalan akan datang pada
hamba yang tidak bersyukur atas segala pemberianNya.
5.
Unsur Ekstrinsik Novel
Nilai yang Terkandung dalam Novel Salah Asuhan
a.
Nilai Moral
Hanafi marah pada Ibunya
karena ia dijodohkan dengan perempuan yang tidak ia kenali.
b.
Nilai Budaya
Pernikahan antara Hanafi dengan Corrie dilarang oleh ayah Corrie, karena
budaya bangsa yang berbeda.
c.
Nilai Kesopanan
Corrie dan Hanafi sering duduk berdua di tempat bermain. Padahal, budaya
Melayu melarang hal itu.
6.
Kelebihan dan Kelemahan
Novel
Kelebihan Novel
a.
Novel ini mengajarkan
kita agar selalu bersyukur dengan apa yang sudah menjadi takdir Allah. Karena,
tidak semua hal bisa dilakukan dengan rasa terpaksa. Keterpaksaan akan
memberikan rasa ketidaknyamanan.
b.
Sebuah bacaan yang
mengingatkan pembaca untuk menjunjung tinggi nilai moral, dan mengakui akan
budaya dan bangsa yang ia miliki.
c.
Sampul novel ini sangat
menarik. Karena dicetak seperti lukisan tangan sendiri.
Kekurangan Novel
a.
Halaman novel cukup
tebal
b.
Memakai gaya bahasa yang
cukup sulit untuk dipahami.
c.
Masih banyak susunan
kalimat yang sulit dimengerti maknanya.
7.
Kesimpulan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar