Minggu, 06 November 2016



Resensi Novel Salah Asuhan

1.      Identitas Buku
Judul                     : Salah Asuhan
Penulis                   : Abdoel Moeis
Penerbit                 : Balai Pustaka
Kota Terbit            :Jakarta
Tahun Terbit          : 1928

2.      Kepengarangan    
Abdoel Moeis adalah seorang pengarang zaman Balai Pustaka yang berasal dari daerah Minangkabau. Ayahnya orang Minang dan Ibunya orang Sunda. Ia adalah seorang pejuang kebangsaan Indonesia yang sezaman dengan H.O.S Cokroaminoto dan Ki Hajar Dewantara.
Sebagai seorang perintis kemerdekaan, ia mulai menerjuni lapangan politik sejak tahun 1920 sebagai anggota Indie Werbar, kemudian menjadi pemimpin Serikat Islam dan menjadi anggota Volksraad. Setelah menyelesaikan pelajarannya di sekolah rendah Belanda di Bukittinggi, ia melanjutkan pelajaran di Stovia, tetapi tidak sampai selesai. Kemudian, ia menjadi wartawan di Bandung. Dengan mengetengahkan tokoh Hanafi dalam roman Salah Asuhan, Abdoel Moeis mengkritik sikap dan tingkah laku kaum borjuis yang kebarat-baratan dan lupa di daratan. Dalam roman tersebut soal adat masih disinggung-singgungnya, bahkan dikritiknya tajam sekali. Beberapa karyanya berupa roman adalah Surapati, Robert Anak Surapati, dan Pertemuan Jodoh.
                                                    
3.      Sinopsis
Sinopsis Novel Salah Asuhan

Sebuah tempat bermain tennis, yang dilindungi pohon-pohon ketapang di sekitarnya masih terasa sunyi. Karena, baru pukul tengah lima petang hari. Cahaya mentari juga tertutupi oleh dedaunan di tempat bermain itu.
Di daerah Solok, tinggallah seorang anak pribumi yang bernama Hanafi. Ibu Hanafi sudah menjadi janda sejak suaminya meninggal disaat Hanafi masih kecil. Ibunya sangat menyayanginya.
Meskipun berjuang mencari rezki seorang diri, Ibu Hanafi tetap berusaha keras untuk mewujudkan masa depan anaknya. Ibunya mengirimnya ke Betawi untuk sekolah di HBS. Di Betawi, Hanafi dititipkan dengan keluarga yang berdarah Belanda. Karena itu, pergaulan Hanafi sudah seperti orang-orang Belanda. Hanafi juga bekerja di Kantor BB sebagai asisten residen di Solok. Meskipun ia asli Indonesia, tetapi gaya hidupnya sudah kebarat-baratan melebihi orang Belanda asli.
Selama sekolah di HBS, Hanafi dekat dengan gadis Eropa yang bernama Corrie. Bukan hanya itu, tetapi dalam kesehariannya mereka selalu bersama. Hubungan mereka sudah seperti kakak dengan adiknya. Bahkan, mereka sering jalan-jalan berdua, bermain tenis meja bersama, dan masih banyak lagi hal-hal yang dilakukan mereka bersama.
Karena kedekatan mereka, Hanafi sangat sayang kepada Corrie. Sehingga Hanafi menyimpan rasa suka kepada gadis berdarah Belanda itu. Semakin lama, rasa sayang Hanafi terhadap Corrie semakin memuncak. Bukan hanya rasa sayang kakak kepada adiknya, melainkan rasa sayang sebagai kekasih. Setiap hari, Hanafi selalu menyisihkan waktunya untuk bertemu dengan Corrie walau pun dalam waktu sebentar. Sikap Corrie pada Hanafi masih terlihat biasa-biasa saja. Suatu ketika, Hanafi memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaannya kepada Corrie. Akan tetapi, Hanafi tidak langsung menerima jawaban dari Corrie. Saat itu juga Corrie langsung pamit pulang pada Hanafi dengan melontarkan berbagai alasan.
Keesokan harinya, Corrie pergi ke Betawi. Selang beberapa hari, sepucuk surat dari Corrie sampai kepada Hanafi. Isi dari surat itu mengenai penolakan secara halus kepada Hanafi terhadap pernyataan yang ia lontarkan ke Corrie tempo hari. Corrie merasa sangat tidak mungkin menerima Hanafi, karena perbedaan bangsa mereka yang berbeda. Corrie yang berbangsa Eropa, sedangkan Hanafi dari bangsa Melayu asli. Bukan karena hal itu saja, namun Corrie juga ditentang oleh ayahnya untuk menikah dengan pria yang berbangsa Melayu. Beberapa hari kemudian, setelah membaca surat penolakan dari Corrie, kondisi Hanafi menyedihkan. Ia jatuh sakit.
Selama Hanafi sakit, Ibunya selalu memberikan nasihat padanya. Ibunya juga tidak pernah merasa lelah dalam merawat Hanafi. Di tengah perbincangan Hanafi dengan Ibunya, ada sedikit hal yang membuat Hanafi terkejut. Ibunya meminta Hanafi untuk menikah dengan Rapiah, yaitu anak mamaknya. Karena pada saat Hanafi bersekolah di HBS, mamaknyalah yang mencukupi kebutuhannya. Mendengar perkataan Ibunya, Hanafi sangat marah. Karena Hanafi sama sekali tidak mengetahui siapa Rapiah yang dimaksut Ibunya. Hanafi hanya suka pada Corrie, walau pun Corrie sudah menolak cinta Hanafi. Ketika itu juga Ibu Hanafi menjelaskan padanya kalau Rapiah adalah anak mamak, yaitu Sultan Batuah. Ibunya ingin menjodohkan Hanafi karena merasa berhutang budi dengan Sultan Batuah ketika Hanafi masih sekolah di HBS, meskipun hal itu dilakukan Ibunya dengan sangat terpaksa.
Karena permintaan Ibunya, menikahlah Hanafi dengan Rapiah. Namun, pernikahan mereka tidak pernah tentram. Rasa cinta tidak pernah ada di antara keduanya. Perkataan kasar selalu dilontarkan Hanafi pada istrinya, Rapiah. Bahkan ia sering memaki-maki Rapiah hanya karena hal sepele. Akan tetapi, Rapiah hanya terdiam dan tidak pernah melawan apalagi membalas caci maki dari suaminya itu.
Sikap balasan baik Rapiah terhadap Hanafi membuat Ibu Hanafi kagum terhadapnya. Namun pada suatu hari Hanafi sangat marah pada Ibunya. Tanpa sadar, Ibu Hanafi menyumpah anaknya sendiri. Tiba-tiba ada anjing gila yang menggigit pergelangan Hanafi sampai dia harus berobat ke Betawi. Sampainya di Betawai, tanpa sengaja Hanafi bertabrakan dengan gadis Eropa. Tidak pernah terfikir olehnya, gadis itu ternyata Corrie. Gadis yang ada dimasa lalunya, hingga sampai saat ini belum bisa ia lupakan. Dengan rasa bahagia, mereka berdua berjalan-jalan keliling Betawi. Selama seminggu Hanafi pergi meninggalkan kampung halamannya. Setelah itu, Hanafi mencoba mencari pekerjaan di Kantor BB sebagai commies. Meskipun gajinya pada saat itu masih terbilang rendah, ia tetap senang menjalani pekerjaannya.
Karena dengan bekerja di Betawi, ia bisa bertemu dengan Corrie setiap harinya. Hanafi terus berusaha untuk memiliki Corrie. Hingga pada hari itu, ia rela berubah kewarganegaraan Eropa. Setelah prubahan kewarganegaraan yang dilakukan Hanafi, Corrie tidak menolak lamarannya. Dikarenakan Corrie juga merasa iba terhadap Hanafi. Meskipun ia harus menerima resikonya dijauhi oleh teman-temannya yang berbangsa Eropa. Pesta pertunangan Hanafi dengan Corrie dilakukan di salah satu rumah teman Belandanya. Namun, sangat disayangkan karena teman mereka tidak begitu suka dengan pertunangan antara Hanafi dengan Corrie. Karena temannya itu tidak suka bergaul dengan orang Belanda yang berkulit sawo matang.
Berita pernikahan Hanafi dengan Corrie sampai pada Rapiah juga Ibu Hanafi. Namun, Rapiah tetap sabar menunggu kedatangan Hnaafi. Saat itu, Hanafi dan Corrie resmi menjalin ikatan suami istri. Pada hari itu, tinggallah mereka dalam satu rumah. Seiring berjalannya waktu, pernikahan Hanafi dan Corrie mulai tidak harmonis. Rumah tangga mereka sudah tidak tentram lagi. Sampai Hanafi tega menuduh Corrie berzinah dengan pemuda lain. Karena hidup Hanafi yang tidak jelas, bangsa Eropa maupun bangsa Melayu tidak mau mengakui Hanafi sebagai warga negaranya. Karena kesombongan dan keangkuhan Hanafi membuat orang-orang menjadi membencinya.
Akhirnya, Corrie pergi ke Semarang untuk menghindari suaminya, Hanafi. Namun pada suatu hari, Hanafi menerima surat bahwa ada yang memberitahunya kalau keberadaan Corrie di Semarang. Ketika mendapat berita itu, Hanafi memberanikan diri untuk menyusul Corrie pergi ke Semarrang. Hanafi mencari Corrie di rumah seorang yang merawat anak-anak yatim. Sesampainya di rumah itu, malah berita buruk yang diterima Hanafi. Corrie mengidap penyakit yang membahayakan, yaitu kolera. Setelah dirawat di rumah sakit, ternyata nyawa Corrie tidak bisa terselamatkan lagi. Setelah Corrie meninggal dunia, Hanafi segera pulang ke Solok untuk menemui Ibu kandungnya. Setelah beberapa hari sampai di kampung halamannya, Hanafi kembali jatuh sakit karena sudah meminum 6 butir sublimat. Obat ini menyebabkan Hanafi terus muntah darah. Karena penyakit yang dideritanya, Hanafi meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya. Namun, ketika jasad Hanafi mau dikuburkan sempat terjadi perselisihan karena perbedaan kewarganegaraan. Karena Hanafi sudah pindah menjadi orang Belanda maka harus dikuburkan di pemakaman bangsa Eropa. Setelah rapat nyinyik mamak, perselisihan mengenai pemakaman jasad Hanafi terselesaikan. Ketika itu juga, Hanafi dikuburkan di kampung halamannya pada saat senja hari.

4.       Unsur Intrinstik Novel
A.    Tema
Kisah cinta antara dua budaya bangsa yang berbeda.

B.     Tokoh
1.      Hanafi
Watak              : Pemarah. Watak pemarah terdapat pada kutipan, “Kemarahan
  Hanafi kepada anaknya, yang katany sudah    
  dimasuki setan dan kepada si Buyung yang masih belum  
  datang, serta malunya kepada kawan-kawannya melihat
  istrinya datang, yang tidak ubah rupanya dengan koki,
  semuanya sudah tertumpah ke atas kepala Rapiah”.
2.      Corrie
Watak              :Lemah lembut. Watak lemah lembut terdapat pada kutipan,
Corrie meraba tangannya yang sedang menggenggam surat kabar itu dan dengan senyum yang amat manis, yang menimbulkan cawak pada kaki kirinya, berkatalah ia, “Hai, Hanafi! Apakah engkau hendak menunjukkan, bahwa surat kabar itu lebih mengikat hatimu dari pada keadaanku di sini?”
3.      Rapiah
Watak              : Penyabar. Watak penyabar terdapat pada kutipan, “Rapiah
tunduk, tidak menyahut, hanya air matanya saja yang
berhembur”.                                                               
4.      Ayah Corrie
Watak              :Tegas. Watak tegas terdapat pada kutipan,“Kawin campuran
itu sesungguhnya banyak benar rintangannya, yang ditimbulkan oleh manusia juga, Corrie! Karena masing masing manusia dihinggapi oleh suatu penyakit ‘kesombongan bangsa’.
5.      Ibu Hanafi
Watak              :Penyabar dan Lemah lembut. Watak penyabar dan lemah
lembut terdapat pada kutipan, “Maka berkatalah ibunya  dengan lemah lembut, “Marilah kita
                         lalu dari sini, Hanafi, karena hari sudah larut malam”.

C.     Alur
Alur Maju Mundur.
Karena, Novel ini menceritakan perjalanan hidup dan percintaan Hanafi selama hidupnya. Sejak awal ia mengenal Corrie gadis cantik berbangsa Eropa, sampai cintanya di tolak karena perbedaan kewarganegaraan. Namun, setelah Hanafi menikah dengan Rapiah, dia di pertemukan kembali dengan Corrie. Gadis cantik yang menolak cintanya dimasa lalu. Namun, pertemuan itu membuat Corrie iba terhadap perjuangan Hanafi untuk mendapatkan cintanya. Hingga pada akhirnya mereka menikah.

D.    Sudut Pandang
Orang Pertama Pelaku Utama

                                
E.     Amanat
1.      Mulutmu adalah harimaumu. Janganlah melontarkan perkataan kasar pada kedua orang tuamu. Karena, Allah bisa murka ketika mendengar perkataan yang menyakiti hati kedua orang tuamu.
2.      Menikahlah kamu dengan pasangan yang kamu cintai. Karena pernikahan yang tidak didasari rasa cinta, pada akhirnya akan berdampak buruk bagi yang menjalaninya.
3.      Sabar dalam menghadapi segala cobaan dalam hidupmu. Maka kesabaran itu akan berbuah manis. Dengan keikhlasan kamu menerima cobaan itu, semakin besar pula pahala yang kamu dapatkan di akhirat.
4.      Jadilah diri sendiri dalam kondisi dan situasi apapun. Jangan pernah menentang apa yang sudah ditakdirkan Tuhan untuk menjadi milikmu. Karena penyesalan akan datang pada hamba yang tidak bersyukur atas segala pemberianNya.

5.      Unsur Ekstrinsik Novel
Nilai yang Terkandung dalam Novel Salah Asuhan
a.       Nilai Moral
Hanafi marah pada Ibunya karena ia dijodohkan dengan perempuan yang tidak ia kenali.
b.      Nilai Budaya
Pernikahan antara Hanafi dengan Corrie dilarang oleh ayah Corrie, karena budaya bangsa yang berbeda.
c.       Nilai Kesopanan
Corrie dan Hanafi sering duduk berdua di tempat bermain. Padahal, budaya Melayu melarang hal itu.

6.      Kelebihan dan Kelemahan Novel
Kelebihan Novel
a.       Novel ini mengajarkan kita agar selalu bersyukur dengan apa yang sudah menjadi takdir Allah. Karena, tidak semua hal bisa dilakukan dengan rasa terpaksa. Keterpaksaan akan memberikan rasa ketidaknyamanan.
b.      Sebuah bacaan yang mengingatkan pembaca untuk menjunjung tinggi nilai moral, dan mengakui akan budaya dan bangsa yang ia miliki.
c.       Sampul novel ini sangat menarik. Karena dicetak seperti lukisan tangan sendiri.


Kekurangan Novel
a.       Halaman novel cukup tebal
b.      Memakai gaya bahasa yang cukup sulit untuk dipahami.
c.       Masih banyak susunan kalimat yang sulit dimengerti maknanya.

7.      Kesimpulan
Novel ini sangat bermanfaat bagi para pembaca. Selain menyadarkan pembaca untuk menjunjung tinggi nilai budaya dan berbangsa, novel ini juga ditulis dengan gaya bahasa yang sulit untuk dipahami. Sehingga, membuat pembaca penasaran dengan isinya dan tertarik untuk membaca ceritanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar